Jumat, 11 Oktober 2013

Home Schooling, Pendidikan di Rumah

Pendidikan Home Schooling. Beberapa waktu lalu, kami mencoba mencari informasi seputar Home Schooling di mesin pencari terbesar dunia dan menemukan beberapa artikel yang patut untuk diulas bersama. Salah satu artikel yang cukup menarik perhatian adalah artikel yang didapat dari http://goo.gl/9rCwfj, ditulis oleh Andi Trinanda. Berikut ini kutipannya (tanpa perubahan) ;
Ilustration Sekolah Rumah
Judul : PENDIDIKAN HOME SCHOOLING? SUDAH ADAPTIFKAH DENGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
Akhir-akhir ini kita sering saksikan mulai banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan alternatif pendekatan dan metodologi pengajaran “link & mach yang cenderung praktis dan katanya lebih efektif mengelaborasi esensi pendidikan dengan aplikasi skill peserta didik. Program pendidikan tersebut sering kita kenal dengan istilah home schooling. Diseluruh dunia terdapat kurang lebih 6 juta home schooling tersebar di berbagai negara, termasuk Indonesia. Walaupun bagi kalangan praktisi pendidikan sendiri substansi pendidikan home schooling secara simplistis inheren dengan SMP terbuka, SMA terbuka, Universitas terbuka atau yang sekarang sedang trend adalah e-learning, namun memang ada kecenderungan bahwa home schooling agak “berbeda” jika dilihat dari tingkat fleksibilitas dan metodologi pengajarannya. Fleksibilitas konsep pendidikan home schooling memang an-sich mengacu kepada kompetensi praktis hubungan antara ketertarikan/kemauan dan hoby individual (baca : siswa) dengan orientasi cita-citanya bekerja atau menguasai bidang-bidang tertentu yang menjadi harapannya dalam bekerja. Fleksibilitas tersebut juga diukur dari metode belajar-mengajar yang tidak “terbelenggu” oleh dimensi ruang dan waktu secara formal serta menjamin tingkat kompetensi terealisir dengan baik. Dengan kata lain konsepsi link & mach memang cenderung lebih efektif jika para siswa belajar dalam tataran konsep pendidikan model ini. Apalagi jika kalangan dunia industri sudah menjalin kerja sama dan membangun hubungan dengan lembaga pendidikan home schooling misalnya mengenai pola standard alternatif bagi kompetensi para lulusan (baca : dalam hal ijasah dan nilai) yang selama ini menjadi domainnya pemerintah.
Untuk menelaah lebih jauh tentang bagaimana pendidikan home schooling ini bisa lebih progresif berkembang di Indonesia, tentu tidak terlepas dari paradigma berfikir masyarakat yang mulai cenderung kritis dan selektif dan tentu saja evaluatif terhadap hasil yang sudah dicapai oleh pendidikan formal yang dikemas dan didesain oleh pemerintah. Secara empiris barangkali salah satu faktor yang mempengaruhi mengapa terjadi pergeseran dinamika pemikiran masyarakat terhadap pola pendidikan di Indonesia adalah salah satunya dikarenakan para orang tua murid sudah begitu menyadari bahwa sudah lama pendidikan kita di “hantui “oleh tingginya kekerasan sosiologis yang selama ini terjadi dalam interaksi dunia pendidikan kita. Kasus tawuran, seks bebas dan narkoba dikalangan pelajar dengan jumlah korban jiwa yang tidak sedikit adalah salah satu faktor yang menyebabkan para orang tua terbangun landasan berfikirnya untuk melakukan terobosan mencari pendidikan alternatif yang relatif “aman” buat anak-anaknya dan rezim diktatorianisme pendidik terhadap peserta didik yang selama ini menjadi budaya dalam pola pendidikan kita juga telah membuka mata sebagian masyarakat terutama para orang tua murid untuk lebih mempertimbangkan putra-putrinya untuk sekolah di pendidikan formal. Realitas lain yang perlu dicermati mengapa pendidikan home schooling ini menjadi pilihan alternatif masyarakat adalah ketika masyarakat mulai menyadari bahwa sebenarnya pola pendidikan formal di Indonesia belum menyentuh substansi kebutuhan riel tantangan dalam era globalisasi yang harus di respon secara kualitatif oleh peserta didik dengan menyiapkan kompetensi yang relevan dan obyektif terhadap kebutuhan skill mereka ketika mereka beraktivitas (bekerja atau berwirausaha). Memang selama ini bagi sebagian kalangan praktisi pendidikan, mereka menjustifikasi bahwa kebutuhan kompetensi tersebut tetap menjadi skala prioritas yang harus terus dikembangkan dalam setiap jenjang kurikulum. Melalui kurikulum berbasis kompetensi (KBK), dan sekarang berubah lagi menjadi kurikulum berbasis pengetahuan terpadu ditambah kurikulum lokal yang terus berganti. Konsep dan desain penerapan kurikulum tersebut dilakukan dengan pendekatan pemikiran dan teori tentang kecerdasan berganda, kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional dengan asumsi bahwa mereka (baca : para pakar dan praktisi pendidikan) menganggap bahwa setiap insan haruslah perlu diakui dan dihargai modalitas belajarnya. Para praktisi pendidikan menerapkan desain konsep pendidikan dalam berbagai strata dengan berupaya mengelaborasi tingkat intelektualitas ide dan gagasan akademiknya dengan pendekatan teoritical education an sich. Kecenderungan teoritical yang intens tersebutlah yang pada akhirnya menimbulkan problematik teoritis dalam dunia pendidikan kita. Implikasinya bisa kita lihat dari terlalu seringnya kurikulum berganti tanpa visi baik content maupun format penerapannya di lapangan. Akibatnya pula bukan cuma para guru yang kesulitan mengintepretasikan dan mengimplementasikan program kurikulum yang dibuat pemerintah, para siswa pun akhirnya “terbelenggu”untuk menerima konsep dan program pendidikan tersebut tanpa reserve. Kasus kontroversi output penerapan standard kelulusan untuk siswa yang baru-baru ini terjadi semakin menjadi salah satu pemicu kuat bagaimana persoalan standard dalam dunia pendidikan juga menjadi salah satu faktor penting mengapa masyarakat mulai beralih untuk lebih jauh melihat standard bukan secara lokal namun sudah jauh ke standard yang lebih bersifat mondial misalnya standard Amerika sampai standard ketaraf Internasional semisal lembaga pendidikan yang menerapkan sistem ISO dalam program pendidikannya. Dan salah satu aspek yang diangkat oleh program pendidikan home schooling ini adalah standard kompetensi internasional tersebut. Maka terjawab sudah bagaimana seharusnya stakeholders (pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam dunia pendikan) termasuk dalam konteks ini juga pihak perusahaan dan instansi yang menampung dan mengakomodir kebutuhan tenaga kerja para lulusan untuk concern menyikapi maraknya pendidikan alternatif semisal home schooling ini dalam perspektif yang lebih otonom dan komprehensif, termasuk didalamnya memberikan solusi tentang otoritas standard kelulusan dan formalisasi pendidikan yang di atur secara baku dan menjadi domain pemerintah.
Tinggal persoalannya adalah sejauhmana masyarakat lebih selektif memilih pendidikan home schooling ini, tidak semata-mata karena faktor status sosial karena memang biaya program pendidikan ini tidak sedikit (atau sekedar trend) saja. Melainkan karena memang masyarakat kita sudah memahami bagaimana konstalasi dan dinamika dunia pendidikan di era globalisasi ini yang menuntut segi otentitas dan kultur lingkungan mondial berkaitan dengan skill dan kompetensi. Kredibilitas program pendidikan home schooling ini bukan hanya diukur dari tingkat fleksibilitas dan kesan informalistik dengan nuansa yang lebih persuasif dan menyenangkan saja, dimensi belajar mengajar yang tidak terbelenggu oleh ruang dan waktu dengan model on the job method maupun off the job method, garansi dan konsepsi link & mach dengan dunia usaha dan industri dan sebagainya. Namun tingkat kredibilitas program pendidikan home schooling ini juga di dasarkan atas legitimasi yang diberikan pemerintah. Apakah pemerintah mau lebih bersikap inklusif atau eksklusif dalam menyoal eksistensi program pendidikan home schooling ini yang nota bene bisa saja mengklaim dirinya setingkat dengan strata pendidikan yang sudah baku di Indonesia. Terlepas memang setiap program pendidikan yang diterapkan di Indonesia apapun itu bentuknya tidak menjamin semua aspek kognitif dan sosial peserta didik terakomodir dengan baik. Seperti halnya program pendidikan home schooling ini yang nota bene jelas tidak menspesifikasikan diri pada aspek sosialisme interaksi dan proses transformasi budaya dan sifat komunitas, namun cenderung individualistik.
Penulis adalah praktisi pendidikan dan dosen di salah satu perguruan tinggi sawsta di Jakarta . Disamping mengajar juga aktif sebagai ketua kelompok studi “SEMBILAN” di Jakarta.
Bagaimana menurut kamu yang telah membaca? Biar lebih lengkap, berikut berma sertakan sejarah singkat perkembangan home schooling yang di tulis oleh kak Yoga Mahardika di situs blognya.
Perkembangan HS dimulai di Amerika pada tahun 1960-an, ketika banyak para ahli yang mengkritik sistem pendidikan formal. Salah satunya adalah John Caldwell Holt melalui dua bukunya How Children Fail dan How Children Learn. Poin penting dari buku tersebut adalah bahwa banyak anak yang gagal dalam proses belajar karena tekanan dari guru. Kemudian ahli pedidikan lainnya, Raymond dan Dorothy Moore di tahun yang hampir bersamaan, mengadakan penelitian tentang pendidikan dini. Mereka membuktikan bahwa pendidikan formal (sekolah) untuk anak umur 8 – 12 tahun (atau sebelumnya) tidak hanya berbahaya bagi si murid secara fisik atau perkembangan mental, pendidikan sekolah juga terbukti tidak efektif. Mereka juga menyatakan bahwa anak yang dididik oleh ibunya sendiri secara umum lebih pandai, bahkan ketika ibunya terbelakang secara mental atau kebudayaan. Moore kemudian merekomendasikan HS lewat bukunya Better Late Than Early, Home Grown Kids, Homechool Burnout.
Di Indonesia, HS mulai populer dan didukung oleh Sistem Pendidikan Nasional sejak tahun 2003. Anak yang belajar melalui HS dapat melakukan test penyetaraan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Melalui test penyetaraan anak dapat pula melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini kemudian menjadi tren di kalangan masyarakat atas. Seiring dengan perkembangannya, pada tahun 2007 pemerintah menyediakan Pelatihan bagi HS Tutor dan Media Pembelajaran. Kini, HS dapat juga dinikmati dengan harga terjangkau bahkan gratis.
Perkembangan HS yang pesat membuat kita semua bertanya-tanya, apakah memang metode HS sanggup menggantikan pendidikan formal. Di Amerika, banyak survei yang membuktikan bahwa HS bahkan lebih baik dari pendidikan formal. Penelitian oleh National Home Education Research (NHERI) menyatakan bahwa siswa HS yang mengikuti test mendapat poin 30-37 % lebih baik. Penelitian lain menyatakan bahwa siswa HS mendapatkan nilai ACT dan SAT 58% labih tinggi dari siswa biasa.
Nah lho, disitu kak Yoga Mahardika menunjukkan hasil survei yang mengagetkan tentunya, dimana siswa yang mengikuti sekolah di rumah mendapatkan poin lebih baik dari pendidikan formal pada umumnya.
Pemburuan Berma pun berlanjut dan terdampar di situs berita nasional Kompas. Dalam berita tersebut menyebutkan bahwa sekolah di rumah memang lebih baik, seperti itulah penuturan bapak Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh berikut ini;
“Beberapa metode pembelajaran bisa dilakukan di luar sekolah. Misalnya, karena memang si anak memerlukan perhatian yang agak khusus. Oleh karena itu, homeschooling semakin dikenal dan itu boleh. Wajar jika kemudian menjadi mahal, karena homeschooling sangat privat. Ibarat pakaian, ada yang di butik dan ada juga yang di pasar,” kata pak Nuh yang Berma kutip dari Kompas.
“Homeschooling bisa menggunakan ujian tersebut untuk ujian kelulusannya. Bisa juga ikut ujian bergabung dengan pendidikan formal. Itu boleh, yang tidak boleh itu jika anak-anak tidak sekolah dan tidak belajar,” imbuh pak Nuh terkait ujian yang dapat ditempuh oleh anak-anak untuk mendapatkan ijasah.
Sementara itu, terkait kurikulum yang digunakan, pak Nuh menuturkan, “Kurikulum dasar harus ada aturannya, tetapi kan bisa disesuaikan. Yang penting materinya harus ada, kalau enggak ada patokannya maka akan sulit saat mereka ujian nanti. Intinya, homeschooling itu boleh dan lebih baik daripada si anak tidak bersekolah”.
Nah, sekarang bagaimana menurut sahabat Berma? Apa memiliki keinginan untuk menyekolahkan anak-anak dengan model home schooling/sekolah di rumah atau masih kekeh di jalur pendidikan formal? Apapun pilihan sahabat semua, pastikan itu menjadi solusi terbaik untuk anak-anak kita. Mengingat, dalam pelaksanaan dilapangan terdapat beberapa komponen pendukung yang berpengaruh terhadap proses pendidikan yang ada.
Sebagus apapun modelnya, tapi kalau komponen pendukungnya (pendidik, fasilitas,dll) kurang inovatif dan menguasai, maka hasilnya juga belum tentu baik.
Semoga bermanfaat ya sahabat ^_^
Materi Referensi :
http://yogamaha.student.umm.ac.id/2010/01/28/homeschooling-apa-dan-mengapa/
http://edukasi.kompas.com/read/2011/08/11/10585711/Mendiknas.Homeschooling.Itu.Lebih.Baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No live link and No out of Topic please! Thank and enjoy it!

 

Fryta's Blog Copyright © 2009 Paper Girl is Designed by Ipietoon Blogger Template Supported by web development service